Betapapun,
adalah manusiawi sekiranya Rasulullah SAW menangis tatkala mendengar
kabar akan terbunuhnya sang cucunda tercinta, sebagaimana juga beliau
menangis ketika meninggalnya Ibrahim, putra beliau, Khadijah, istri
beliau, Abu Thalib, paman beliau, dan Ja’far Ath-Thayyar, sepupu
beliau…
Al-Husain melihat musuh terus mengepungnya dan menghantam kuda yang
ditungganginya dengan pedang, sesekali pada kakinya dan sesekali pada
pahanya. Tidak tega melihat kudanya dipukuli, ia pun turun dari kudanya
dan melepaskan kudanya.
Sang Imam lalu berdiri dengan kedua kakinya, sementara orang-orang keji
telah mengepungnya. Mereka mulai menebaskan pedang ke arahnya. Tebasan
itu mengenai bahu, tangan, dan kakinya.
Masing-masing mereka tidak mau menjadi orang pertama yang menebaskan
pedangnya ke tubuh sang Imam. Karena mereka tahu, siksa macam apa yang
akan mereka alami kelak di akhirat jika mereka membunuh Al-Husain.
Ketika luka sang Imam semakin banyak, ia terus diserang dengan serangan
yang kuat. Meski telah lelah, Al-Husain terus memerangi mereka hingga
barisan mereka terpecah.
Namun mereka kembali mengepungnya dan salah seorang di antara mereka
memukul kakinya, hingga ia berlutut. Tapi ia tetap berperang walau dalam
keadaan berlutut.
Lalu datanglah orang yang paling celaka, Syimmar bin Dzil Jausyan,
sambil berkata, “Kenapa kalian tidak langsung membunuhnya? Bunuhlah dia
segera!”
Syimmar terus memanas-manasi mereka hingga salah seorang di antara
mereka mendatangi Al-Husain dan memukul kepala sang Imam. Dan Imam pun
terjatuh ke tanah.
Demi kemuliaan Dzat Yang Mengagungkan kedudukan mereka sungguh gambaran
jatuhnya sang Imam ke tanah merupakan hakikat pencapaiannya pada
puncak maqam kedekatan tertinggi di sisi Allah. Dan ini merupakan
gambaran rendahnya dunia di sisi Allah. Ini adalah saat kemenangan sang
Imam, yang telah menunjukkan kejujuran dan janji setia keluarga dan
para sahabatnya terhadap datuknya, Rasulullah SAW, dalam membantu agama
ini.
Kemudian datanglah manusia paling celaka, Syimmar, memenggal kepala sang Imam.
Bersikap Moderat
Demikian sepenggal kisah detik-detik terbunuhnya Imam Husein di Padang
Karbala, sebagaimana yang pernah dituturkan Habib Ali Zainal Abidin
Al-Jufri.
Tak ayal, tragedi sepuluh Muharram 61 H/686 M itu, yang juga banyak
diceritakan para ulama dari zaman ke zaman, menjadi noda hitam dalam
sejarah Islam sepeninggal Baginda Nabi SAW.
Tragedi Karbala adalah peristiwa kemanusiaan teramat dahsyat yang
mengakibatkan cucu Rasulullah SAW, Imam Husain, dan segenap keluarganya,
dibunuh secara keji. Peristiwa yang juga merupakan ungkapan suatu
pengorbanan luar biasa para syahid di jalan kebenaran dan keadilan
Ilahi.
Sungguh, darah Imam Husain dan para pengikut setianya yang mengalir di
Padang Karbala merupakan tetesan darah yang tak mengalir percuma. Tetes
demi tetes darah itu seakan mewujud sebagai semangat kehidupan seorang
hamba yang sebenarnya, bahwa seorang manusia yang hidup di atas muka
bumi tak selayaknya hidup demi kepentingan duniawi semata.
Roda zaman terus berputar. Hingga sekarang, Peristiwa Karbala telah
berlalu lebih dari 14 abad silam. Lalu, bagaimana selayaknya umat Islam
pasca-Tragedi Karbala menyikapi peristiwa tragis tersebut?
Dalam salah satu taushiyahnya, Habib Umar Bin Hafidz menyinggung hal
itu, “Kita tentu bersedih dengan peristiwa terbunuhnya Al-Husain di hari
Asyura. Orang yang berbahagia karena terbunuhnya Al-Husain, jelas hal
itu membuatnya menjadi seorang yang fasiq, bahkan bisa pada kekufuran.
Akan tetapi, dalam beragama, sikap kita tidak didasari sifat
tasya-um (pesimisme,
sial, atau merasa tak berpengharapan, bersedih berkepanjangan karena
peristiwa atau pandangan tertentu), tapi dengan
tafa-ul (optimisme, atau menanggapi secara positif segala sesuatu).
Tasya-um, apalagi dalam bentuk-bentuk seperti mencaci maki, tidak ada
tuntunannya dalam agama kita dan dalam peringatan-peringatan agama kita
ini. Semua peringatan agama dalam agama kita didasari semangat
optimisme dan membawa ketenangan di hati, seperti halnya peringatan
Maulid, hari ‘Id, bulan Ramadhan, dan sebagainya.
Kita memang tak boleh bersenang hati dengan terbunuhnya Al-Husain. Tetapi kita harus tetap
wasth,
moderat, sebagaimana fungsi agama yang sebenarnya. Kita tidak
menyikapi Peristiwa Karbala dengan bersedih-sedih, karena hal itu
bahkan bertentangan dengan apa yang dirasakan Imam Husain sendiri.
Jelas, di hari itu Al-Husain sangat bahagia.
Seandainya ditanyakan kepadanya hari yang paling membahagiakan baginya,
niscaya jawabnya adalah hari di saat ia mendapati kesyahidannya, yaitu
hari Asyura. Sebab, di hari itu derajatnya diangkat Allah SWT dan di
hari itu pula ia berjumpa dengan kakeknya, Rasulullah SAW, ayahnya, Ali
KW, ibundanya, Fathimatuzzahra, dan kakaknya, Al-Hasan. Karenanya,
kita pun tidak memperingatinya dengan kesedihan.
Adapun istilah lebaran anak yatim di hari Asyura itu berdasarkan
hal-hal yang disunnahkan di hari itu, yaitu lewat riwayat-riwayat yang
sudah termasyhur di tengah-tengah kaum muslimin. Di antaranya,
melebihkan uang belanja keluarga, menyantuni dan menggembirakan anak
yatim, dan sebagainya. Kesemuanya adalah hal-hal yang bersifat optimisme
dan kebahagian di hati.
Namun demikian, kalau di hari itu kita berbahagia karena terbunuhnya
Al-Husain atau berpesta karenanya, itu tindakan yang bertentangan dengan
akal sehat. Hendaknya, kita menempatkan semua nash agama pada
tempatnya dan menyikapi setiap masalah secara proporsional.”
Multi-Dimensi Historis

Asyura,
atau hari kesepuluh bulan Muharram, nyatanya memang memiliki sejumlah
dimensi historis. Jauh sebelum Tragedi Karbala, sepuluh Muharram telah
menjadi hari yang dikenal secara khusus bagi umat-umat terdahulu.
Sebut saja, di antaranya, peristiwa diterimanya taubat Nabi Adam AS,
diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari jilatan api yang dinyalakan Raja
Namrudz, terbelahnya lautan yang menyelamatkan Nabi Musa AS dan bala
tentaranya dari kejaran tentara Fir’aun, diangkatnya Nabi Isa AS ke atas
langit.
Sebuah hadits dari Abi Hurairah RA menyebutkan, ketika Nabi SAW
melewati sekelompok orang Yahudi yang tengah berpuasa di hari Asyura’,
beliau bertanya, “Puasa apa ini?”
Mereka menjawab, “Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan
Bani Israil dari tenggelam dan menenggelamkan Fir’aun. Dan hari ini
juga adalah hari merapatnya bahtera Nabi Nuh di Bukit Judiy. Maka Nabi
Nuh dan Nabi Musa berpuasa, sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.”
Lalu Nabi SAW berkata, “Aku lebih berhak dari Musa (dalam bersyukur)
dan lebih berhak untuk berpuasa di hari ini.” Kemudian, Nabi pun
memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.
Mengenai peristiwa terbunuhnya Al-Husein di Padang Karbala pada hari
Asyura, sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Nabi SAW sendiri telah
mengabarkan akan terjadinya peristiwa itu jauh-jauh hari.
Ummu Salamah RA, istri Nabi SAW, bercerita, “Sewaktu Nabi tidur di
rumahku, tiba-tiba Husein hendak masuk, maka aku (Ummu Salamah) duduk di
depan pintu mencegahnya masuk, karena khawatir membangunkan beliau.
Kemudian aku lupa akan sesuatu, sehingga Husein merangkak masuk dan
duduk di atas perut beliau.
Lalu, aku mendengar rintihan Rasulullah SAW.
Aku pun mendatanginya dan bertanya, ‘Apa yang engkau ketahui sehingga engkau merintih seperti itu?’
Rasulullah menjawab, ‘Jibril datang kepadaku ketika Husein ada di atas
perutku seraya berkata kepadaku: Apakah engkau mencintainya
(Al-Husein)?
Aku pun menjawab: Iya, aku mencintainya.
Lalu Jibril berkata: Sesungguhnya di antara umatmu kelak ada yang akan
membunuhnya. Maukah engkau aku tunjukkan tanah tempat terbunuhnya?
Maka aku pun menjawab: Iya.
Jibril mengepakkan sayapnya lalu memberikan tanah ini kepadaku’.”
Ummu Salamah RA berkata, “Maka tampak pada tangan Rasulullah tanah
merah dan beliau pun menangis seraya berkata, ‘Siapakah yang akan
membunuhmu (wahai Husein) sepeninggalku?’.”
Perasaan Manusiawi
Jauh sebelum peristiwa tragis itu terjadi, ternyata Rasulullah SAW telah
mencium bau perpecahan yang parah, yang bahkan akan menumpahkan darah
dagingnya sendiri. Namun, kesempurnaan pribadi beliau, yang melebihi
manusia mana pun, membuatnya menyerahkan semua itu sepenuhnya kepada
Allah, Yang Maha Berkehendak. Beliau berharap agar tetap ada di antara
umatnya yang senantiasa mengukuhkan tali persaudaraan di antara kaum
muslimin dan tetap menunjukkan akhlaq mulia di tengah kebobrokan zaman
yang kerap merongrong iman.
Ulama salaf dari kalangan Alawiyyin pun menyerukan agar umat tetap
bersikap proporsional dalam menyikapi Asyura. Habib Abdullah bin Alwi
Al-Haddad menerangkan dalam
Tatsbit al-Fu’ad, “Asyura adalah
hari duka cita, tak ada kebahagiaan di dalamnya, mengingat terbunuhnya
Al-Husein di hari itu. Namun tidak dibenarkan pada hari itu melakukan
ritus yang lain melebihi dari berpuasa dan memberi belanja lebih pada
keluarga, karena pada dasarnya hari itu sendiri adalah hari yang utama.”
Betapapun, adalah manusiawi sekiranya Rasulullah SAW menangis tatkala
mendengar kabar akan terbunuhnya sang cucunda tercinta, sebagaimana
juga beliau menangis ketika meninggalnya Ibrahim, putra beliau,
Khadijah, istri beliau, Abu Thalib, paman beliau, dan Ja’far
Ath-Thayyar, sepupu beliau, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Karenanya, para ulama tak memaknai tangisan Rasulullah SAW ketika itu
sebagai hujjah agar kelak umatnya turut menangisi terbunuhnya Imam
Husein, sebagaimana beliau pun tak pernah mengadakan hari berkabung
untuk kematian Nabi Zakariya dan Nabi Yahya, yang juga dibunuh secara
zhalim oleh kaumnya.
Sebuah riwayat hadits menyebutkan, ketika putra beliau, Ibrahim,
dikebumikan, Rasulullah SAW berdiri di atas kuburnya seraya berkata,
“Wahai anakku, hati bisa berduka, mata bisa meneteskan air mata, tapi
tak ‘kan kulontarkan kata-kata yang membuat Tuhanku murka. Sesungguhnya
kita semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.”
Bukan hanya itu. Bahkan Rasulullah melarang umatnya meratapi kematian
sebagaimana kebiasaan kaum Jahiliyah. Beliau bersabda, “Bukan termasuk
golonganku, orang yang memukul-mukul pipinya (karena kematian
seseorang), dan merobek-robek pakaiannya, serta menjerit-jerit
sebagaimana kebiasaan orang-orang Jahiliyah.”
Umat Islam memahami, Al-Husein adalah bagian dari
ahlul bayt Rasulullah
SAW, sekelompok orang yang umat dianjurkan untuk mencintai mereka.
Rasulullah SAW pun bersabda, “Didiklah anak-anak kalian mengenai tiga
perkara: mencintai nabi kalian, mencintai ahlul baytnya, dan membaca
Al-Qur’an.”
Di sisi lain, isu
ahlul bayt telah menjadi isu sepanjang zaman
yang tak berkesudahan. Dan Peristiwa Karbala adalah salah satu
pembahasan krusial dalam konstelasi keyakinan beragama dunia Islam, di
samping beberapa isu populer di seputar ahlul bayt lainnya.
IY
Ahlul Bayt di Panggung Sejarah

Siapakah
sebenarnya yang disebut ahlul bayt? Bagaimana perjalanan sejarah
mereka? Dan siapa saja tokoh-tokoh dalam lingkungan mereka?
Istilah ahlul bayt berasal dari firman Allah SWT sebagaimana termaktub
di dalam Al-Qur’anul Karim surah Al-Ahzab: 33, yang berbunyi,
“Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian,
ahlul bayt, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”
Secara harfiah, ahlul bayt bermakna “keluarga” atau “anggota rumah
tangga”. Akan tetapi dalam kaitannya dengan makna ayat tersebut, para
ahli tafsir berbeda pendapat.
K.H. Abdullah bin Nuh, dalam bukunya,
Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW, setelah mengurai berbagai nash dan pendapat para ulama menyimpulkan, terdapat lima penafsiran terhadap makna kata
ahlul bayt dalam ayat 33 surah Al-Ahzab tersebut:
Pertama, pada umumnya para ulama ahli tafsir berpendapat, makna
ahlul bayt mencakup dua pihak, yaitu
ahlul aba (Rasulullah
SAW, Siti Fathimah, ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan dan Al-Husein) dan
para istri Rasulullah SAW Radhiyallahu ‘Anhum. Itulah penafsiran yang
mu’tamad dan dapat dijadikan pegangan.
Kedua, Abu Sa’id Al-Khudhri, seorang sahabat Nabi, dan sejumlah ulama
tafsir dari kalangan tabi’in, termasuk Mujahid dan Qatadah,
berpendapat, makna
ahlul baytterbatas pada
ahlul aba.
Ketiga, Ibnu ‘Abbas, seorang sahabat Nabi, dan Ikrimah, dari kaum tabi’in, berpendapat bahwa yang dimaksud
ahlul bayt ialah
ummahatul mu’minin, yakni para ibu suci istri-istri Rasulullah SAW (Atau: para ibu suci, istri-istri Rasulullah SAW? Maknanya berbeda).
Keempat, Ibnu Hajar dan Tsa’labi berpendapat bahwa yang dimaksud
ahlul bayt ialah orang-orang Bani Hasyim, karena mereka mengartikan kata
bayt dengan
“keluarga”, yakni keluarga seketurunan. Dengan demikian, ‘Abbas bin
Abdul Mutthalib (paman Nabi), saudara-saudaranya, dan anak-anaknya,
semuanya termasuk dalam pengertian
ahlul bayt. Pengertian tersebut didasarkan pada riwayat yang berasal dari Zaid bin Arqam, dan tercantum di dalam
Tafsir Al-Khazin.
Kelima, Al-Khathib Asy-Syaibani, yang sependapat dengan Al-Buqai’i, berpendapat, penafsiran yang terbaik mengenai kata
ahlul bayt ialah
setiap orang yang hidup bersama Rasulullah SAW, lelaki maupun
perempuan, istri, kerabat, maupun hamba sahaya. Mereka itulah yang
sangat dekat dengan Nabi SAW, memperoleh perhatian khusus dari beliau
dan selalu menyertai beliau, karena itu mereka lebih berhak dan lebih
patut disebut ahlul bayt.
Betapapun, saat disebutkan istilah
ahlul bayt, ada kekhususan
pada empat sosok utama dalam rumah tangga Rasulullah SAW, yaitu Ali,
Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husein, yang, bersama Rasulullah SAW, mereka
disebut
ahlul kisa’.
Dalam Risalah Tafsir
al-Mu’awwidzatain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan soal kekhususan
ahlul kisa’ sebagai
ahlul bayt Rasulullah
SAW. Ia mengatakan, “Sama halnya dengan sabda Nabi SAW yang mengatakan
bahawa masjid yang didirikan atas dasar taqwa ialah ‘masjidku’.
Padahal secara pasti nash Al-Qur’an yang mengenai itu menerangkan
bahawa yang dimaksud adalah Masjid Quba. Demikian pula sabda Rasulullah
SAW yang diucapkan kepada
ahlul kisa bahwa mereka itu adalah ‘ahlul baytku’. Padahal ayat Al-Qur’an yang mengenai
ahlul bayt (Al-Ahzab:
33) pengertiannya mencakup para istri Nabi SAW. Mengenai soal-soal
seperti itu pengkhususan sesuatu yang perlu dikhususkan memang lebih
baik daripada hanya diutarakan keumuman sifat-sifatnya.”
Hubungan nan Harmonis
Sejarah ahlul bayt memang selalu menarik perhatian banyak orang. Betapa
tidak, ia adalah satu dari dua peninggalan besar Rasulullah,
sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, “Kutinggalkan kepada kalian
dua peninggalan: Kitabullah, sebagai tali yang terentang antara langit
dan bumi, dan keturunanku, ahlul baytku. Sesungguhnya kedua-duanya itu
tidak akan terpisah hingga kembali kepadaku di Telaga Haudh (di
surga).”
Saat mengutip hadits tersebut, K.H. Abdullah bin Nuh menyebutkan
takhrijnya bahwa hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari
hadits Zaid bin Tsabit dan dari
Shahih Al-Bukhari dan
Shahih Muslim.
Yang pertama pada halaman 182 dan yang kedua pada akhir halaman 189,
jilid V. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Abu Syaibah, Abu Ya’la, dan
Ibnu Sa’ad dalam
Kanz al-Ummal I/47, hadits No. 945.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, perjalanan sejarah ahlul bayt dan
jejak-jejaknya tak pelak terus memunculkan banyak wacana di tengah umat,
mulai dari zaman sahabat, tabi’in, bahkan hingga hari ini.
Satu di antara sekian banyak fitnah yang beredar di tengah-tengah kaum
muslimin adalah adanya hubungan yang tidak baik antara ahlul bayt dan
para sahabat Nabi SAW. Padahal, sejumlah fakta membuktikan dengan jelas
bahwa kasih sayang antara ahlul bayt dan para sahabat Nabi SAW tetap
terjalin dengan baik, sebab mereka adalah anak didik Rasulullah SAW yang
telah mereguk nilai-nilai kasih sayang langsung dari sumbernya yang
sama, yaitu Rasulullah SAW, dengan segala keluhuran pekerti beliau yang
dapat mereka saksikan setiap saat dengan mata kepala sendiri.
Apabila dalam diri seseorang sudah meresap keyakinan bahwa di antara
para sahabat dan ahlul bayt itu terhubung jalinan kasih sayang, berarti
prinsip tersebut sudah bersemayam di lubuk hatinya. Hati pun menjadi
tenteram, sirna pula rasa dengki dan benci terhadap sahabat-sahabat
Nabi, terutama pada pribadi-pribadi tertentu yang kerap dituding sebagai
musuh ahlul bayt.
Prinsip ini pun selaras dengan semangat yang terkandung dalam
Al-Qur’an, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa,
‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”
Makna di Balik Nama
Nama seseorang mencerminkan dirinya. Nama merupakan pembeda, yang
membedakan seseorang dengan orang lain. Hal ini berlaku bagi seluruh
manusia. Orang yang berakal tidak pernah ragu akan pentingnya nama.
Sebab, melalui nama, orang akan dikenal dan dibedakan dari
saudara-saudaranya sendiri maupun orang lain. Nama itu akan menjadi
tanda bagi diri yang bersangkutan dan juga bagi putra-putrinya kelak.
Nama seseorang juga melambangkan agama dan juga tingkatan akalnya.
Pernahkah terdengar ada seorang Nashrani atau Yahudi yang memberi nama
putra-putri mereka dengan nama “Muhammad”? Ataukah ada di kalangan
muslimin yang memberi nama anaknya dengan nama “Lata” dan “Uzza”, selain
orang yang kurang akalnya?
Seorang anak terikat dengan ayahnya melalui nama. Seseorang dipanggil dengan nama pilihan ayah dan keluarganya.
Jadi, umat manusia selalu menggunakan nama. Orang suka mengatakan, “Melalui nama Anda, saya dapat mengerti siapa bapak Anda.”
Maka, dengan nama apa Anda memberi nama putra Anda? Apakah Anda memilih
nama yang Anda sukai, disukai ibunya, dan keluarganya, atau Anda
memberi nama putra Anda dengan nama musuh Anda? Sudah pasti kita
memilihkan nama dengan nama-nama yang mengarah pada sesuatu yang
bermakna bagi kita.
Fakta pemberian nama yang menggambarkan hubungan ahlul bayt-sahabat
jelas bukan satu kebetulan yang hanya terjadi pada seorang anak, sebab
para tokoh ahlul bayt menamakan banyak anak mereka dengan nama-nama
sahabat, begitu pula sebaliknya. Ini merupakan masalah yang perlu
direnungkan dengan lebih tenang. Di dalamnya terkandung seruan bagi jiwa
dan perasaan, serta penjelasan yang memuaskan.
Kalau bukan lantaran adanya sesuatu rasa yang istimewa di hati Imam Ali
kepada tiga khalifah terdahulu, akal sulit menerima kenyataan kenapa
ia sampai memberi nama putra-putranya dengan nama-nama mereka: Abu
Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum. Sejarah mencatat, ketiga
putra Imam Ali itu kelak syahid bersama saudaranya, Al-Husein, di Padang
Karbala.
Putra tertua Imam Ali, Al-Hasan, pun memberi nama putra-putranya dengan
nama Abu Bakar, Umar, dan Thalhah. Ketiganya pun syahid di Karbala
bersama paman mereka, Al-Husein.
Al-Husein sendiri menamai salah seorang putranya dengan nama Umar.
Putra Al-Husein, Ali Zainal Abidin, juga memberi nama putrinya dengan nama Aisyah dan seorang putranya dengan nama Umar.
Demikian juga dengan para ahlul bayt lainnya, yaitu dari keturunan
Abbas bin Abdul Muthalib, keturunan Ja’far bin Abi Thalib, Muslim bin
Aqil, dan selain mereka.
Kondisi ini merupakan bukti, baik dari segi logika, psikologis, maupun
realitas, bahwa ahlul bayt ingin membuktikan besarnya rasa cinta
mereka kepada Khulafa’ Ar-Rasyidin, juga kepada segenap sahabat Nabi SAW
lainnya.
Ini juga sekaligus merupakan bukti kebenaran firman Allah Ta’ala,
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah
keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka,
kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud.” (QS: Al-Fath 29).
Itulah gambaran kedudukan sahabat Nabi di hati para ahlul bayt Nabi
SAW. Sebaliknya, apa yang dikatakan sahabat Nabi tentang ahlul bayt?
Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah berkata, “Demi Allah, Yang
jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh (menyambung) kerabat Rasulullah
Shalallahu Alaihi Wasalam lebih aku cintai daripada aku menyambung
kerabatku sendiri.” (HR Bukhari: 4241, Muslim: 1759).
Sementara itu, Sayyidina Umar ibnul Khaththab RA mengatakan kepada
Abbas, paman Nabi SAW, “Demi Allah, keislamanmu lebih aku sukai daripada
Islamnya Al-Khaththab (maksudnya adalah ayahnya) seandainya saja ia
masuk Islam. Sesungguhnya Islam-mu lebih disukai oleh Rasulullah
daripada Islam-nya Al-Khaththab.” (Ibnu Sa’ad dalam
Ath-Thabaqat: 4/22).
Para Penjaga Syari’at
Setelah berlalunya era kehidupan Al-Hasan dan Al-Husein, semua mata
tertuju kepada Ali Zainal Abidin, putra Al-Husein, sebagai sosok yang
dianggap meneruskan trah kebesaran keluarga ahlul bayt sekaligus
pemangku khilafah ruhaniah umat di masa itu.
Habib Umar Bin Hafidz pernah berkisah tentang gambaran keadaan di masa Imam Ali Zainal Abidin. Berikut petikannya:
“Apa yang dilakukan Ali Zainal Abidin? Apa ia berjuang untuk mendapat
kekuasaan? Apa ia mengajak orang-orang Islam untuk membai’atnya? Apa ia
membuat sebuah rencana kudeta penguasa saat itu?
Semua ini tidak terjadi pada diri Ali Zainal Abidin. Apakah karena ia
tidak tahu apa-apa tentang agama? Aku bersaksi, ia termasuk orang yang
paling alim mengenai agama. Demi Allah, Ali Zainal Abidin bukan orang
bodoh. Di masanya, ia adalah pewaris agung Muhammad SAW.
Ia menyibukkan hidupnya dengan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an,
menangis, bersedekah, dan berbuat kebajikan kepada orang lain. Ia sama
sekali tak pernah menyinggung urusan kekuasaan. Ia juga tidak pernah
memaki-maki, melaknat, dan mengucapkan pernyataan-pernyataan buruk,
bahkan kepada para pembunuh ayah dan saudara-saudaranya.
Inilah khilafah sejati. Inilah yang dilakukan oleh generasi terbaik
umat ini. Mereka mengikuti jejak Rasulullah SAW, jejak ahlul bayt,
sahabat, tabi’in, dan para pengikut mereka.
Perjalanan hidup Ali Zainal Abidin penuh dengan ibadah. Ia banyak
melakukan shalat. Dua pipinya bergaris hitam karena aliran air mata,
takut kepada Allah. Keadaannya persis seperti apa yang digambarkan oleh
Farazdaq:
Beliau menundukkan kepala
karena sifat malu
dan orang-orang menundukkan kepala di hadapannya
karena kharismanya
Maka tak ada yang berbicara dengannya
kecuali saat tersenyum
Ketika melihatnya mengusap Hajar Aswad, Farazdaq menggubah sajak:
Telapak tangan Ali Zainal Abidin
seperti hendak ditahan Hajar Aswad
saat ia mengusapnya
Jadi, dalam gambaran Farazdaq, jika Ali Zainail Abidin datang ke
Ka’bah, Hajar Aswad seperti mau berdiri, memegang tangannya, dan
menciumnya.
Ia berasal dari golongan
yang mana mencintai mereka adalah ajaran agama
membenci mereka adalah kekafiran
kedekatan dengan mereka tempat keselamatan dan tali untuk berpegang
Bila orang-orang bertaqwa dikumpulkan
merekalah para pemimpinnya
Bila ada yang bertanya
“Siapakah yang terbaik di muka bumi ini?”
merekalah jawabannya
Setelah itu putranya, Muhammad Al-Baqir. Setelah itu putra Al-Baqir,
Ja’far Ash-Shadiq. Mereka semua meneladani ayah-ayahnya dalam kemuliaan
dan jalan ini.
Di masa tabi’in itu, kekuasaan dipegang Yazid bin Muawiyah. Ia dikenal
fasiq dan buruk. Saat itu, ada Hasan Al-Bashri, Sa’id bin Al-Musayyab,
juga para tabi’in senior. Ada Ali bin Al-Husain, juga putra-putra
Al-Hasan. Apa ada di antara mereka yang membuat kekacauan? Atau melawan
penguasa, atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan teladan para
pendahulu dan ajaran Rasulullah SAW?
Khilafah berlanjut. Tibalah masa para imam: Abi Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal.
Apa
mereka semua hidup di tengah-tengah khilafah yang lurus atau hidup di
tengah-tengah kekuasaan kerajaan (yang zhalim – agar ada perlawanan
sifat dengan lurus)? Apakah mereka menyusun rencana untuk menyingkirkan
orang-orang yang memiliki kekuasaan itu? Tidak, mereka sibuk
menjaga Islam, menjaga syari’at di tengah-tengah umat, dengan segala
kesungguhan dan daya upaya. Mereka mengorbankan waktu, jiwa raga, dan
harta, untuk menjelaskan hakikat syari’at kepada umat manusia serta
membawa mereka untuk bisa mengamalkannya.”
Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, dalam kitabnya
Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, menyebutkan, “Yang dimaksud dengan
as-sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW (meliputi ucapan, perilaku, serta ketetapan beliau). Sedangkan pengertian
al-jama’ah adalah
segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi
Muhammad SAW pada masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, yang empat, yang telah
mendapat hidayah.”
Dalam kitab
Syarh al-Wasithiyyah, disebutkan, “Apabila disebut
Al-Jama’ah bersama
As-Sunnah lantas dikatakan
Ahlussunnah wal Jama’ah,
yang dimaksud dengannya adalah para salaf dari umat ini, termasuk para
sahabat Nabi SAW dan para tabi’in, yang sepakat dalam kebenaran yang
nyata dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW.”
Jadi, kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang
teguh pada sunnah-sunnah (ajaran-ajaran) Nabi Muhammad SAW. Ahlussunnah
wal Jama’ah menerima sunnah-sunnah Nabi SAW, melalui para periwayatnya,
baik dari kalangan ahlul bayt maupun dari para sahabat Nabi SAW.
Makna Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut dapatlah dipahami bila para
tokoh ulama terkemuka dalam Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah seiring
sejalan bahkan memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarga ahlul
bayt, sebab mereka semua adalah kaum yang, sebagaimana disebutkan di
atas, sepakat dalam kebenaran yang nyata dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan
sunnah Rasulullah SAW.
Tidaklah mengherankan bila kemudian ditemukan banyak komentar yang
terlontar dari kalangan keluarga ahlul bayt yang memuji dan menyanjung
sahabat Nabi. Begitu pun sebaliknya, tak terhitung banyaknya perkataan
para ulama tokoh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang menunjukkan
kecintaan mereka kepada ahlul bayt, sebagai bentuk kepatuhan terhadap
syari’at Islam, yang amat mereka pahami.
Dalah hal ini, cukuplah kiranya pernyataan Imam Ja’far Ash-Shadiq (baca
Manaqib),
“Saya dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali!” Siapakah ibu Imam Ja’far?
Ibunya bernama Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.
Atas ucapan Imam Ja’far itu, para ulama dan sejarawan pun menilainya
sebagai wujud rasa bangga sang Imam atas jalinan kekerabatan yang ia
miliki dengan Sayyidina Abu Bakar. Imam Ja’far tidak menyebut nama
Muhammad bin Abu Bakar, sosok yang disepakati kaum Syi’ah akan
keutamaannya. Tapi ia menyebut nama Abu Bakar. Jelas bukan terhadap
siapa seseorang akan berbangga?
Memuliakan Ahlul Bayt
Ketika Sayyidina Umar bin Abdul Aziz RA masih menjadi penguasa kota
Madinah, buyut perempuan Rasulullah SAW yang bernama Fathimah binti ‘Ali
Zainal Abidin bin Al-Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhum
datang kepadanya.
Semua orang yang berada di dalam rumah disuruh keluar oleh Umar bin
Abdul Aziz, kemudian ia berkata kepadanya, “Di muka bumi ini tidak ada
keluarga yang lebih kucintai daripada kalian, dan kalian lebih kucintai
daripada keluargaku sendiri.”
Itulah salah satu gambaran kecintaan yang terus berlanjut antara
tokoh-tokoh umat dan kalangan keluarga ahlul bayt. Contoh-contoh lainnya
masih teramat banyak.
Imam Abu Hanifah RA, misalnya, sangat besar kecintaannya kepada ahlul
bayt. Ia menghormati mereka dan sering membantu untuk mengatasi
kesukaran mereka, baik yang sedang dikejar-kejar oleh kekuasaan Bani
Umayyah maupun yang tidak. Pada suatu saat ia memberi bantuan keuangan
kepada keluarga ahlul bayt yang sedang dikejar-kejar, dengan uang
sebesar 12 000 dirham. Bahkan ia mendorong sahabat-sahabatnya agar
membantu mengatasi kesulitan para anggota keluarga ahlul bayt Rasulullah
SAW.
Begitu pula Imam Syafi’i RA. Ketika ia dituduh kaum Khawarij sebagai
pengikut kaum Rawafidh dan kaum Nawashib (karena kecintaan dan
penghormatannya kepada ahlul bayt dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar
Ibnul Khaththab Radhiyallahu Anhum), dalam beberapa bait syairnya ia
menjawab tegas:
Kalau aku dituduh
oleh orang-orang bodoh
sebagai penganut kaum Rawafidh
karena aku memuliakan Ali RA…
kalau aku dituduh
sebagai penganut kaum Nawashib
karena aku memuliakan Abu Bakar RA…
biarlah aku selamanya menjadi orang Rawafidh dan Nawashib kedua-duanya
karena aku memang memuliakan ‘Ali dan Abu Bakar…
kendatipun aku akan dibenamkan dalam gundukan pasir….
Ia juga mengatakan, “Kalau karena mencintai keluarga Muhammad aku
dituduh penganut kaum Rawafidh, biarlah Tsaqalain (Kitabullah dan ahlul
bayt Rasulullah SAW) menjadi saksi bahwa aku ini seorang Rafidhi